KUMPULAN CERPEN INDRA HERI IRAWAN
Lelaki kurus itu sudah hampir seminggu sering menyendiri, nampaknya
sudah menjadi sebuah pekerjaannya menghabiskan waktu dengan menyendiri.
Setiap pagi menjelang matahari menjalankan tugasnya, dia sudah terpekur
menata sarungnya di antara ujung kaki hingga menutupi setengah badannya,
kemudian dia pun menatap langit dan bermainlah dia dengan pikirannya.
Lama sekali dia menatap langit itu, kala itu langit masih
berselimutkan gelap dan kabut asap, dinginnya suhu udara kota Tegal,
sedikit pun tidak mengganggunya, malahan gerentes hatinya dingin adalah
jiwa yang mengakar dalam kehidupannya selama dia ditinggalkan oleh
pujaan hatinya selepas menyelesaikan sekolah di MA NU 03 BREBES kemarin lalu,
tanpa sebab yang jelas.
Dia sering menyalahkan diri sendiri, kenapa dia tidak bisa menangkal
kepergian perempuan itu, yang sudah hampir dua tahun mematri ranah-ranah
hidup, bermimpi fastastik, dan seringkali bergurau bercengkrama bermain
hasrat jika kelak kita telah sah menjadi pasangan agama dan Negara.
Ah, pasti bahagia jika kau sekarang di sampingku: setiap pagi kau
bangunkan ku dengan suara mu yang indah
menggodaku, jika aku pulang ke rumah selepas mengejar ilmu .
Astagfirullah, dia bangkit dalam lamunannya. Perempuanku hingga empat
bulan kau meninggalkan ku, aku masih terlarut padamu: “Tuhan jika
memang ini pendampingku di dunia ini, tolong mudahkanlah dia datang
kembali padaku, aku tak mau berspekulasi mendahului kehendak Mu. Tapi,
jika dia memang bukan untuk ku, jagalah dia selalu tuhan: berikan dia
kebahagiaan”. Amin
Cahaya matahari yang menyentuh pipinya membuyarkan lamunan lelaki
kurus itu, dengan berurai air mata dia pergi ke kamar mandi yang berada
di pojok rumahnya, lelaki itu setiap kali bersimbah air mata berusaha
menutup kesedihan dengan berwudhu, supaya seisi rumah tidak tahu bahwa
dia sedang bermuram durja, terutama bunda, dia tak ingin bundanya tahu
bahwa perempuan yang sering dia bawa dua tahun terakhir telah
meninggalkannya.
Dia tak mau bundanya bersedih, karena bunda telah menitipkan harapan
besar kepada perempuan itu, meskipun belum terucapkan. aku tak bisa
membayangkan jika bunda tahu “perempuan harapannya itu telah
meninggalkan putra nomer satu ya ini”.
Dalam hatinya, perempuan itu adalah perempuan terbaik yang pernah aku
bawa menghadap bunda, anaknya baik dan pintar: aku ingat sekali ketika
pertama kali ku perkenalkan padanya, bunda memanggilnya Eneng dengan
penuh getaran suara tak biasa dan mimik bercahaya, sebutan dan prilaku
yang biasa bunda berikan kepada perempuan yang dianggapnya baik.
“Kenapa nak?” aku kaget setengah mati, dia telah memperhatikan ku
dari tadi, sejak subuh yang lalu: tangan yang mencoba menghapus buyaran
air mati ini, jadi tak konsen, “tidak bun”, kataku, “hanya kelilipan
saja, tadi semut iseng main di mataku”. aku bergeges melangkah menuju
kamar mandi. kemudian dia pun menangis sejadi-jadinya. Prilaku murungku,
akhirnya tercium juga oleh bunda: selepas beraktivitas menjelang waktu
isya pada pertengahan bulan maret tahun pemilu legislatif kedua secara
langsung dilaksanakan di Negara kita, bunda mengagetkanku dengan satu
pertanyaan: bunda menanyakan kabar perempuan yang sering aku bawa itu.
“Kenapa sudah dua bulan lebih si eneng tidak main lagi kesini yana?
padahal dulu hampir setiap sebulan sering kesini”, aku kaget: kaget
setengah mati, pura-pura tak mendengar, aku menata bantal yang setengah
merosot dari kepalaku, “mungkin lagi sibuk bun, terakhir dia nelpon
minta doa akan mengikuti kegiatan pendidikan, dan bisnis katanya”. “oh,
rajin ya? tolong kalau, yana ketemu salam dari bunda ya”, iya bun.
Dalam hati yang penuh kebingungan, aku baca raut tanda Tanya yang
besar dari perempuan yang melahirkanku ini: aku harus menjelaskan gimana
tentang prinsip yang berbeda yang menjadi dasar kita berpisah. Kita
bubar, tak tau arah pulang.
Hari sepertinya lama sekali berganti, suara riuh telpon setiap jam
sekali biasanya berisi pesanmu, atau bahkan sesekali menelpon menanyakan
kabarku, “jangan lupa makan, sedang dimana, jangan lupa pakai jaket,
kaos tangan dan hati-hati di jalan”. Dia setiap harinya seperti ini,
sekalipun dia sibuk beraktivitas, dia pasti menyempatkan mengerim pesan
padaku.
Aku tak pernah bosan membaca pesan itu, begitu pun dia: mungkin tak
pernah bosan untuk mengingatkan aku. Tapi kali ini, setelah kau
menyatakan “aku harus pergi dulu”, aku tak lagi mempunyai tenaga untuk
beraktivitas, seperti tak ada lagi tujuanku beraktivitas. Dari minggu ke
minggu aku hanya dikejar-kejar rutinitas ngeband -ngeband dan ngeband, yang sampai hari ini aku
belum sepenuhnya menikmatinya karna aku sedang galau.
Sepenuh hatiku sudah sepenuhnya terisi kehidupannya, wajar saja jika
sepeninggalnya dia dari kehidupanku aku hilang bentuk dan arah. Maafkan
kata kasar yang telah terucap membabi buta di hatimu waktu itu, aku tak
tahu ini bakal sangat membekas di hatimu, sampai kini kau berkesimpulan
pergi dari kehidupanku.
Cerpen Karangan: Indra heri irawan
0 komentar